Kalau kamu berpikir bahwa bermain Dota 2 bersama dengan orang Filipina sudah cukup menjengkelkan, cobalah bermain dengan orang Indonesia. Tidak jauh berbeda, kamu akan mendapati kata-kata yang kurang mengenakkan dari chat mereka. Baik dari pemain Indonesia yang menjadi musuh kamu, maupun teman satu tim.
Kejadian seperti ini biasa disebut dengan trash talk. Ini adalah bentuk cemoohan yang umumnya terjadi di dalam situasi yang kompetitif. Biasanya, orang melakukan trash talkuntuk menjelek-jelekkan pemain lawan atau menyombongkan diri sendiri.
Lalu, apakah trash talk di dalam game itu buruk? Adakah cara untuk menghindarinya? Dalam rubrik Dota Weekly kali ini, saya ingin mencoba menjawab pertanyaan tersebut.
Trash Talk, Hal yang Tidak Etis dan Memperkeruh Permainan
Kalau kamu adalah pemain Dota 2 yang sering bermain di server Asia Tenggara, hal ini rasanya tidak dapat dihindari lagi. Saya yakin kamu akan mendapati trash talkdalam setidaknya dua dari tiga pertandingan yang kamu mainkan.
Put tank in a mall! Kalau kamu mengerti gambar ini, berarti kamu korban trash talk. Sumber:
Reddit
Sebuah game online bisa menjadi besar karena komunitas pemain yang selalu mendukungnya. Dota 2 sendiri adalah game online dengan jumlah pemain terbesar di dunia. Namun, budaya trash talk ini membuat komunitasnya, terutama di Asia Tenggara, menjadi tempat yang tidak kondusif bagi para pemain baru dan ingin berkembang.
Katakanlah kamu seorang pemain baru di Dota 2 dan kamu melakukan sebuah kesalahan. Bukannya diberikan petunjuk bermain yang benar, kamu malah menerima cercaan. Kalau hal seperti ini terus berlangsung, bagaimana komunitas Dota 2 di Asia Tenggara dapat berkembang cepat?
Hal yang lebih saya takutkan lagi adalah orang-orang tidak akan tertarik untuk bermain Dota 2 karena komunitasnya yang toxic. Meskipun kamu merasa hal ini tidak mungkin terjadi, namun kamu tidak tahu apa yang akan terjadi di lima tahun mendatang bukan?
Lalu, apakah trash talk berdampak buruk bagi para pemainnya? Tentu saja, terutama bagi tim atau pemain yang sedang tertinggal dan bermain secara buruk. Mereka akan menjadi semakin tenggelam di dalam jurang keputusasaan karena trash talk mempengaruhi psikologis seseorang. Ya, saya sendiri cukup sering merasakan hal seperti itu.
Tidak hanya mempengaruhi dalam tingkat individu, trash talk tentu saja akan berdampak buruk bagi keharmonisan sebuah tim. Dota 2 adalah sebuah game yang membutuhkan kekompakan lima orang untuk memenangkannya. Sebuah tim dengan pemain berkemampuan baik yang terpecah belah akan kalah kepada tim dengan keahlian biasa saja yang kompak.
Jangan meniru Juggernaut ini. Meskipun ia adalah rekan satu tim saya, namun saya masih tetap melaporkan dirinya
Dari ribuan game yang pernah saya mainkan, tidak jarang tim saya terpecah belah karena trash talk. Paling menjengkelkan adalah ketika korban trash talk tersebut memilih untuk diam saja di markas yang mengakibatkan tim saya harus bermain dengan empat orang.
Jangan Pernah Membawa Trash Talk ke Dunia Nyata
Kalau kamu masih melakukan hal kurang terpuji ini, saya harus menyarankan kamu agar lebih berhati-hati. Biarkanlah apa yang terjadi dalam game, tetap berada di sana.
Justin Carter, lelaki berumur 18 tahun ini meluapkan kekesalannya setelah bermain League of Legends lewat komentarnya yang cukup mengancam. Justin berkata, meskipun dalam konteks bercanda, bahwa saking kesalnya ia ingin menembak satu sekolah penuh dengan anak-anak dan memakan jantung mereka (jangan ditiru ya).
Justin kini dikenakan hukuman detensi di rumahnya
Namun malang nasibnya. Seorang wanita asal Kanada melihat komentar tersebut, lalu mencari informasi pribadi Justin dan melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Pada tanggal 14 Februari 2013, Justin ditangkap dan ia divonis delapan tahun penjara lima bulan setelahnya.
Saya juga sering sekali melihat video rekaman CCTV di dalam sebuah warnet memperlihatkan bagaimana trash talk yang terjadi di dalam game dapat berujung ke perkelahian fisik. Hal seperti ini sudah jelas mengangkat trash talk menjadi penyebab dari tindakan kriminal.
Sekali lagi saya ingin mengingatkan, sebisa mungkin jangan melibatkan emosi di dalam gameterbawa sampai dunia nyata. Memang sulit rasanya, apalagi setelah kamu mengalami kekalahan bertubi-tubi. Cobalah untuk menghirup napas panjang setelah bermain guna menenangkan pikiran kamu. Sambil berkata dalam hati, “Ini hanyalah sebuah permainan”.
Cara Menghindari Trash Talk
Meskipun trash talk di dalam game tidak dapat kamu hindari seratus persen, namun kamu dapat berusaha untuk meminimalkannya. Kalau kamu sudah tidak tahan dengan trash talkyang berlebihan, Dota 2 memberikan beberapa fitur sebagi yang dapat kamu jadikan sebagai solusi.
Fitur pertama adalah mute pemain. Di dalam pertandingan, kamu dapat mengaktifkan fitur mute kepada pemain yang kamu rasa sudah keterlaluan. Kamu tidak akan lagi mendengar dan melihat chat darinya di dalam pertandingan.
Kamu kini dapat bermain dengan tenang tanpa terganggu dengan trash talk
Caranya, bukalah daftar pemain yang terdapat di pojok kiri atas. Lalu, di sebelah kanan atas nama pemain, akan ada tombol bulat kecil bergambar pengeras suara. Apabila kamu ingin melakukan mute terhadap seorang pemain, cukup klik saja tombol tersebut hingga berubah merah.
Cara lainnya adalah dengan melaporkan pemain lain dengan harapan Valve akan menjeremuskannya ke dalam low priority pool atau bahkan menonaktifkan fitur chatmiliknya. Meskipun cara ini tidak instan, tapi setidaknya kamu sudah berusaha mengurangi satu trash talker di dalam komunitas Dota 2.
Apabila kamu adalah seorang trash talker, saya tahu memang sulit untuk berubah menjadi pemain Dota 2 teladan. Namun, cobalah untuk tidak melakukannya karena dapat merugikan orang yang menjadi korban trash talk kamu, memperkeruh komunitas Dota 2, dan berpotensi membuat diri kamu rugi.
Well, kalau kamu bersikeras untuk terus melakukan trash talk, cepat atau lambat katakanlah selamat tinggal kepada fitur chat kamu.